MATERI KULIAH SABTU 7 MEI 2011 (DOSEN PAK IBNU DARI UNPAD)

Siklus Reproduksi Tahunan Ikan

Ikan mempunyai siklus reproduksi tahunan yang memacu perkembangan gonad dan dipertahankan siklusnya selama ikan masih mampu bereproduksi

Siklus reproduksi ikan bersifat endogenous dan ketika disinkronisasikan dengan musim akan memberi isyarat pada otak untuk merespon kondisi lingkungan tersebut. Cahaya dan suhu merupakan faktor lingkungan penting yang menginisiasi dan mengatur kecepatan perkembangan gonad. Faktor tersebut bekerja sebagai isyarat yang memperantarai perbedaan setiap fase dari siklus reproduksi ikan

Sinyal atau isyarat yang mengkoordinasikan dan mensinkronisasikan ritme reproduksi tahunan dengan ritme lingkungan dalam setiap tahun bertindak sebagai kalender yang sesuai dengan perubahan-perubahan suhu, pencahayaan dan ketersediaan makanan bagi larva dalam setiap musim yang berbeda setiap tahun

Ikan yang memiliki periode pemijahan musiman mempunyai suatu penanda jam internal ketika musim pemijahan datang (Gambar 1)

Siklus reproduksi tahunan

Phase Phase Phase Phase Pasca
Persiapan Pra-Pemijahan Pemijahan Pemiajahan
(JAN-APRL) (MEI-JUN) (JUL-OKT) (NOV-JAN)

Oogonia —˃ Oosit II —-˃ Ootid —-˃ Atresia —-˃
Oosit I Ootid Ovum Folikel ovari
Spermatogonia —˃ Sptsit II —˃ Spermatid —˃ Atresia —-˃
Spermatosit I Spermatid Spermatozoa Spermatogonium

Stimulasi Cahaya
Pembesaran secara bertahap perkembangan gonad induk ikan yang memasuki masa pra-pemijahan tergantung fotoperiode (pencahayaan lingkungan secara alami) dan suhu. Fotoperiode panjang (siklus terang lebih lama dari pada siklus gelap) menginduksi pengaruh pemauan proses perkembangan gonad ikan. Fotoperiode pendek (siklus gelap lebih lama dari pada siklus terang) menyebabkan kerusakan siklus pemijahan yang menjurus pada regresi / atresia gonad
Pengaruh stimulasi perubahan pencahayaan lingkungan (fotoperiode) diterima sel fotoreseptor retina mata ikan, kemudian impuls cahaya tersebut diteruskan ke organ pineal yang terdapat pada bagian atas diensefalon otak ikan. Organ pineal bertindak sebagai transducer neuroendocrinal (sinyal yang dapat mengubah informasi isyarat cahaya masuk menjadi isyarat untuk memproduksi hormon), yang selanjutnya sinyal ini diteruskan ke hipotalamus. Stimulasi cahaya lingkungan dalam mempengaruhi pemacuan sekresi hormon yang diproduksi pada hipotalamus untuk menginduksi pelepasan hormon gonadotropin pada hipofisis terhadap pemasakan gonad

Ikan adalah hewan air yang melaksanakan kegiatan reproduksi secara temporal. Pemijahan ikan kebanyakan bersifat musiman, sementara beberapa jenis diantaranya dapat memijah beberapa kali dalam setahun. Pemijahan periodik setiap spesies ikan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, baik suhu ataupun cahaya berpengaruh pada organ-organ indera dan selanjutnya mempengaruhi berturut-turut sistem syaraf pusat, hipotalamus, hipofisis dan akhirnya memacu perkembangan gonad

Faktor endogen yang terutama melibatkan peran hormon-hormon yang berkaitan dengan organ-organ reproduksi menimbulkan ritme internal atau circannual periodicity yang mengatur (paling tidak sebagian) reproduksi musiman

Proses perkembangan alat reproduksi ikan dan pemijahannya secara alami merupakan respon terhadap rangsangan lingkungan. Faktor lingkungan seperti suhu, curah hujan, fluktuasi penyinaran ataupun sirkulasi air merupakan faktor yang sangat berperan dalam pengaturan aktivitas reproduksi musiman ikan

Secara alami, faktor-faktor lingkungan seperti cahaya, suhu, curah hujan dan sirkulasi air sangat mempengaruhi aktivitas pemijahan induk-induk ikan yang telah masak gonad. Interaksi antara stimulus eksternal yang menggerakkan sinyal-sinyal hormonal dalam pengaturan siklus reproduksi tahunan ikan berfungsi sebagai pemacu untuk melepaskan hormon yang diproduksi pada sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad yang terkait dengan pembentukan sperma dan telur

Pengetahuan tentang jalur ketanggapan sistem syaraf dan sistem endokrin (hormonal) ikan terhadap perubahan-perubahan musiman pemijahan ikan sangat penting untuk memahami strategi breeding ikan dan manipulasi teknik pemijahan ikan secara buatan

Faktor kunci penting adalah ada atau tidaknya penghambatan sekresi Gonadotrophine Releasing Hormone (GnRH) yang diproduksi sel neurosekretorik hipotalamus akibat pengaruh faktor lingkungan merupakan mekanisme jalur pengaturan tahapan perkembangan gonad ikan

Gonad sebagai organ reproduksi ikan memiliki beberapa fungsi penting yang berkaitan dengan produksi hormon-hormon steroid, produksi gamet maupun untuk menginduksi dan mempermudah terjadinya pemijahan ikan. Gonad jantan (testis) dan gonad betina (ovarium) penting dalam melangsungkan proses-proses reproduksi ikan yang dimulai dari perkembangan setiap fase gametogenesis (spermatogenesis dan oogenesis) sampai dengan fertilisasi antara spermatozoa dan ovum
Testis pada ikan Teleostei berjumlah sepasang dan dibentuk oleh tubulus longitudinalis (Van Tienhoven, 1983). Umumnya testis ikan ditopang secara memanjang oleh mesorchia ginjal pada bagian atas rongga tubuh, dan testis ikan terletak di sepanjang daerah ginjal sampai ke lubang urogenital papila dihubungkan oleh vas deferens yang merupakan saluran keluarnya spermatozoa

Testis tersusun atas tubulus seminiferus dan sel-sel interstitialis (sel Leydig) yang terletak diantara tubulus-tubulus tersebut. Pada ikan, pemberian nama sel Leydig sering digunakan dalam istilah biologi reproduksi mamalia yang dianggap homolog dengan lobule boundary cells yang terdapat diantara tubulus seminiferus (Hoar, 1984). Tubulus seminiferus, terdiri atas : (1) tunika jaringan penyambung fibrosa ; (2) lamina basalis yang merupakan dinding dasar tempat melekatnya sel-sel spermatogonia (sel-sel folikel testis) dan (3) epitel germinativum (Carneiro, 1982)

Epitel germinativum ini terdiri atas sel Sertoli dan primordial germ cells (sel germinal testis). Sel Sertoli mempunyai fungsi nutritif yakni memberikan nutrien-nutrien yang diperlukan untuk perkembangan sel-sel spermatogenik dan fungsi endokrin yakni mensekresikan suatu protein pengikat androgen (ABP : Androgen Binding Protein) yang berperan untuk mengikat dan mengkonsentrasikan testosteron yang penting untuk melangsungkan proses-proses spermatogenesis
Primordial germ cells merupakan calon sel spermatogenik yang terletak diantara lamina basalis dan lumen tubulus seminiferus. Sel-sel ini berkembangbiak beberapa kali dan berdiferensiasi sampai membentuk spermatozoa dalam proses spermatogenesis.
Ketika dimulai proses spermatogenesis, sel Sertoli membentuk siste-siste (merupakan siste seminiferus) bersamaan dengan perubahan bentuk dari spermatogonia sekunder menjadi spermatosit primer. Siste-siste ini berdiferensiasi secara sinkronis menjadi spermatosit sekunder, spermatid dan akhirnya menjadi spermatozoa
Sel Leydig merupakan tempat penyimpanan kolesterol-kolesterol dalam bentuk droplet-droplet lipid (butiran lemak) dalam sitoplasmanya. Kolesterol tersebut merupakan prekursor (bahan baku) untuk selanjutnya diubah menjadi progesteron dan akhirnya diubah menjadi testosteron oleh proses enzimatik setelah diinduksi LH (Luteinizing Hormone) (Scott & Baynes, 1982

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: