Budidaya Belida

kan belida yang termasuk dalam suku Notopteridae (ikan berpunggung pisau) adalah ikan air tawar yang memiliki bentuk tubuh yang unik, sekilas mirip dengan black ghost. Ikan Belida selain bisa di jadikan ikan konsumsi juga dapat dijadikan ikan hias karena bentuk tubuhnya yang unik. Ikan ini dikenal dengan berbagai sebutan seperti Ikan Belida, Ikan Lopis, dan Ikan Pipih. Berikut Ini beberapa cara dan tips dalam memelihara dan budidaya ikan belida. 

Kolam/Tempat Pemeliharaan
Ikan Belida dewasa berukuran 1,5-7 kg, oleh karena itu ikan ini butuh area yang cukup luas dengan oksigen yang cukup. Disarankan untuk menggunakan kolam yang besarnya kira-kira 2 x 1,5 meter atau akuarium yang cukup besar dan berikan ketinggian air 30-45 cm. Dengan suhu rata-rata antara 20-30. Usahakan untuk menggunakan sistem air mengalir.

Pisahkan Ikan belida kecil dengan ikan belida yg besar karena ikan karnivora ini dapat memiliki sifat kanibal.

Makanan ikan belida 
1. Ikan 
Berikan ikan ikanan yang lebih kecil daripada mulutnya atau hampir sama contoh ikannya: ikan mas,anakan ikan lele(pilih lele dumbo/lele hitam lainnya, jangan beri pakan dengan lele lokal, karena lele lokal memiliki patil yang lebih tajam daripada patil lele hitam lainnya).

2. Udang
Berikan udang udangan yang lebih kecil daripada mulutnya atau hampir sama contoh udangnya : udang kali,udang hantu/udang dipasar yang telah dipotong kecil-kecil.

3. Kodok
Berikan kodok/katak yang lebih kecil daripada mulutnya atau hampir sama. Pemberian pakan berupa katak/kodok hanya untuk belida dewasa.

Budidaya
Sebelum melakukan budidaya, anda harus terlebih dahulu mengetahui jenis kelaminnya.Belida Betina memiliki sirip perut relatif pendek dan tidak menutup bagian urogenital, alat kelamin berbentuk bulat. Ketika birahi (matang gonad), bagian perut membesar dan kelamin memerah. Belida Jantan memiliki sirip perut lebih panjang dan menutup bagian urogenital, alat kelamin berbentuk tabung, ukuran lebih kecil daripada betina. Jika jantan siap pijah alat kelamin memerah dan mengeluarkan cairan putih (cairan sperma) jika ditekan/diurut.

Telur biasanya diletakkan di batang terendam pada kedalaman hingga 1m. Dalam rekayasa penangkaran, batang bambu atau papan dipakai sebagai tempat penempelan telur. Pemijahan dilakukan pada musim penghujan (di BBAT Agustus hingga Maret). Dalam sekali pemijahan, seekor betina rata-rata menghasilkan 288 butir telur, meskipun dapat menghasilkan hampir dua kali lipat dari jumlah itu. Derajat pembuahan berkisar 30-100 %. Derajat penetasan 72,2% dan sintasan (survival rate) larva adalah 64,2%. Larva menetas sekitar 72-120 jam (3-5 hari) pada suhu air 29-30 °C.

Larva bersifat kanibal sehingga perlu perlindungan. Benih berusia 3 hari sudah mulai dapat makan udang artemia. Benih berusia satu bulan sudah dapat dideder di akuarium, dan satu bulan kemudian siap dideder di kolam. Ikan dengan ukuran 15cm siap untuk pembesaran.

Selengkapnya: http://www.peliharaan.web.id/2012/01/pemeliharaan-dan-budidaya-ikan-belida.html#ixzz1vznD085c or http://www.peliharaan.web.id/2012/01/pemeliharaan-dan-budidaya-ikan-belida.html

photo terbaru untuk ijasah UNPAD

EFEKTIFITAS KUNING TELUR BEBEK SEBAGAI BAHAN ANESTESI PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio)


ABSTRACT

 


Risky Handayani (Supervised By : Ayi Yustiati and Widi Setyogati). 2012. The Effectivity of Yolk Egg of Duck As Anaesthetic Agent On Common Carp (Cyprinus Carpio)

Broodstock handling on induced spawning such as hormone injection and stripping can cause broken scales and fins, body injuries to it causes diseases. Natural anesthetic can be done by using yolk egg of duck. The objective of research is to find out effectivity of yolk egg concentration as anasthetic material on common carp (Cyprinus carprio).

The method of research is experimental  method using Completely Randomized Design (CRD). The treatments are A : 8 ml/L, B : 10 ml/L, C : 12 ml/L, D : 14 ml/L  and E : 16 ml/L. Each treatment repeated  three times. The observation variables were done on pre – unconcius time, unconcious time and recovery conscious time on common carp (Cyprinus carprio).

The result of  research shows that optimum consentations yolk egg of duck to broodstock handling is 14 ml/L, It produces pre – unconcius time, unconcious time and recovery conscious time 45,32 minute, 6,41 minute and 6,34 minute, respectively.

keyword : anesthesia, eggs yolk of duck, Common carp,

PROMOSI SEDIKIT…

Bagi anda yang ingin hidup sehat,,menghindari diri dari kegemukan yang berakibat stroke, jantungan, diabetes, dll maka kini ada solusi terbaru produk terkemuka dari USA,,, HERBALIFE,,, anda anak2, dewasa, orang tua bisa menikmatinya

 

Selain itu HERBALIFE dapat dijadikan peluang bisnis yang menjanjikan jika anda ingin bergabung dan menekuninya..

 

HIDUP SEHAT, DAPAT UANG…

 

RISKY HANDAYANI (0856-6965-6165) Klik http://www.herbalifeindonesia.com

penetasan artemia dengan metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi

I.         PENDAHULUAN

 

 

A.     Latar Belakang

Dalam usaha budidaya ikan ada dua kegiatan yang sangat penting yaitu pembenihan ikan dan pembesaran ikan. Pembenihan ikan memegang peranan penting dalam pengembangan suatu usaha budidaya ikan. Salah satu faktor yang sangat berperan dalam menunjang keberhasilan suatu pembenihan adalah ketersediaan pakan alami.

Pakan alami merupakan salah satu input penting yang mempengaruhi keberhasilan usaha budidaya ikan. Banyak jenis pakan alami yang telah berhasil diproduksi oleh petani ikan, namun usahanya masih bersifat bagian dari kegiatan budidaya ikan. Upaya untuk memproduksi pakan alami secara komersial sudah waktunya dilakukan, mengingat kebutuhan akan pakan alami terus meningkat. Produksi pakan alami yang kualitas dan kuantitasnya terjamin, merupakan harapan dari sebagian besar petani ikan. Salah satu budidaya pakan alami dalam dunia perikanan adalah budidaya Artemia.

Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias air tawar karena ukurannya yang sangat kecil. Disamping ukurannya yang kecil, nilai gizi Artemia juga sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan krustacea yang tumbuh dengan sangat cepat. Sampai saat ini Artemia sebagai pakan alami belum dapat digantikan oleh pakan lainnya. Artemia biasanya diperjual belikan dalam bentuk cyst, sehingga sebagai pakan alami Artemia merupakan pakan yang paling mudah dan praktis, karena hanya tinggal menetaskan kista saja. Akan tetapi, menetaskan kista Artemia bukan suatu hal yang dengan begitu saja dapat dilakukan oleh setiap orang. Sebab membutuhkan suatu keterampilan dan pengetahuan tentang penetasan itu sendiri. Kegagalan dalam menetaskan kista Artemia barakibat fatal terhadap larva ikan yang sedang dipelihara.

Dari uraian diatas sekilas mengenai kelebihan – kelebihan Artemia oleh karena itu pada praktikum mata kuliah Teknik dan Manajemen Pakan Mencoba mempraktikan penetasan cyste Artemia sampai menghasilkan Artemia yang siap diberikan pada larva ikan

  1. B.     Tujuan

Dari kegiatan praktikum yang dilakukan mengenai Penetasan Artemia ada beberapa tujuan sbb :

  1. Memenuhi kebutuhan pakan alami (Artemia) yang dibutuhkan oleh larva ikan.
  2. Mengetahui proses penetasan cyste Artemia baik dengan metode dekapsulasi dan metode non dekapsulasi.
  3. Mengetahui bentuk morfologi Artemia secara mikroskopis
  4. Mengetahui Hatching Rate dari penetasan menggunakan metode Non Dekapsulasi dan Dekapsulasi
  5. Mengetahui perbedaan penetasan menggunakan metode non dekapsulasi dan dekapsulasi

II.       TINJAUAN PUSTAKA

  • A.     Biologi dan daur hidup Artemia


  1. Klasifikasi

Menurut Bougis (1979) dalam Kurniastuty dan Isnansetyo (1995) dalam website http://zaldibiaksambas.files.wordpress.com/2010/10/Artemia-salina1.pdf

adalah sebagai berikut:

Phylum      : Anthropoda

Kelas            : Crustacea

Subkelas    : Branchiopoda

Ordo            : Anostraca

Familia       : Artemidae

Genus           : Artemia

Spesies         : Artemia salina

 

  1. Morfologi

Cyste Artemia yang ditetaskan pada salinitas 15-35 ppt akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Larva Artemia yang baru menetas dikenal dengan nauplius. Nauplius dalam pertumbuhannya mengalami 15 kali perubahan bentuk, masing-masing perubahan merupakan satu tingkatan yang disebut instar (Pitoyo, 2004 dalam website http://zaldibiaksambas.files.wordpress.com/2010/10/Artemia-salina1.pdf )

Pertama kali menetas larva Artemia disebut Instar I. nauplius stadia I (Instar I) ukuran 400 mikron, lebar 170 mikron dan berat 15 mikrongram, berwarna orange kecoklatan. Setelah 24 jam menetas, naupli akan berubah menjadi Instar II, Gnatobasen sudah berbulu, bermulut, terdapat saluran pencernakan dan dubur. Tingkatan selanjutnya, pada kanan dan kiri mata nauplius terbentuk sepasang mata majemuk. Bagian samping badannya mulai tumbuh tunas-tunas kaki, setelah instar XV

 

Gambar 2.1 Bagian Tubuh Artemia

  1. Ekologi

Artemia secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30 derajat celcius. Kista Artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100 derajat celcius. Artemia dapat ditemui di danau dengan kadar garam tinggi, disebut dengan brain shrimp. Kultur biomasa Artemia yang baik pada kadar garam 30-50 ppt. Untuk Artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt (Kurniastuty dan Isnansetyo, 1995 dalam web site http://zaldibiaksambas.files.wordpress.com/2010/10/Artemia-salina1.pdf).

  1. Siklus Hidup

Dalam http://www.o-fish.com/PakanIkan/Artemia.php Siklus hidup Artemia bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur. Setelah 15 – 20 jam pada suhu 25°C kista akan menetas manjadi embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada fase ini embrio akan menyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadi naupli yang sudah akan bisa berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarna orange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam menetas mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa mikro alga, bakteri, dan detritus organik lainnya. Pada dasarnya mereka tidak akan peduli (tidak pemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia diair dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. Pada kondisi demikian biomasnya akan mencapi 500 kali dibandingakan biomas pada fase naupli.

Dalam tingkat salinitas rendah dan dengan pakan yang optimal, betina Artemia bisa mengahasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari) mereka bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10 -11 kali. Dalam kondisi super ideal, Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi nauplii atau kista sebanyak 300 ekor(butir) per 4 hari. Kista akan terbentuk apabila lingkungannya berubah menjadi sangat salin dan bahan pakana sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang dan malam hari.

Artemia dewasa toleran terhadap selang suhu -18 hingga 40 ° C. Sedangkan

tempertur optimal untuk penetasan kista dan pertubuhan adalah 25 – 30 ° C. Meskipun demikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia menghendaki kadar salinitas antara 30 – 35 ppt, dan mereka dapat hidup dalam air tawar salama 5 jam sebelum akhirnya mati.

Variable lain yang penting adalah pH, cahaya dan oksigen. pH dengan selang 8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10 dapat membunuh Artemia. Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi pertumbuhan mereka. Lampu standar grow-lite sudah cukup untuk keperluan hidup Artemia. Kadar oksigen harus dijaga dengan baik untuk pertumbuhan Artemia. Dengan suplai oksigen yang baik, Artemia akan berwarna kuning atau merah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyak mengkonsumsi mikro algae. Pada kondisi yang ideal seperti ini, Artemia akan tumbuh dan beranak-pinak dengan cepat. Sehingga suplai Artemia untuk ikan yang kita pelihara bisa terus berlanjut secara kontinyu. Apabila kadar oksigen dalam air rendah, dan air banyak mengandung bahan organik, atau apabila salintas meningkat, Artemia akan memakan bakteria, detritus, dan sel-sel kamir (yeast). Pada kondisi demikian mereka akan memproduksi hemoglobin sehingga tampak berwarna merah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai memproduksi cyst.

B.     Metode Penetasan Artemia

Sutaman (1993) dalam  http://zaldibiaksambas. files. wordpress. com/2010/10/ Artemia-salina1.pdf). mengatakan bahwa penetasan cystae Artemia dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu penetasan langsung dan penetasan dengan cara dekapsulasi. Cara dekapsulasi dilakukan dengan mengupas bagian luar kista menggunakan larutan hipoklorit tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio. Cara dekapsulasi merupakan cara yang tidak umum digunakan pada panti-panti benih, namun untuk meningkatkan daya tetas dan meneghilangkan penyakit yang dibawa oleh cyste Artemia cara dekapsulasi lebih baik digunakan (Pramudjo dan Sofiati, 2004).

Subaidah dan Mulyadi (2004) memberikan penjelasan langkah-langkah penetasan dengan cara dekapsulasi, sebagai berikut:

a)  Cyst Artemia dihidrasi dengan menggunakan air tawar selama 1-2 jam;

b)  Cyst disaring menggunakan plankton net 120 mikronm dan dicuci bersih; 3. Cyst dicampur dengan larutan kaporit/klorin dengan dosis 1,5 ml per 1 gram cyst, kemudian diaduk hingga warna menjadi merah bata;

c)  Cyst segera disaring menggunakan plankton net 120 mikronm dan dibilas menggunakan air tawar sampai bau klorin hilang, barulah siap untuk ditetaskan;

d)  Cyst akan menetas setelah 18-24 jam. Pemanenan dilakukan dengan cara mematikan aerasi untuk memisahkan cytae yang tidah menetas dengan naupli Artemia.

Pramudjo dan Sofiati (2004) cyst hasil dekapsulasi dapat segera digunakan (ditetaskan) atau disimpan dalam suhu 0 derajat celcius – (- 4 derajat celcius) dan digunakan sesuai kebutuhan. Dalam kaitannya dengan proses penetasan Chumaidi et al (1990) mengatakan cyst setelah dimasukan ke dalam air laut (5-70 ppt) akan mengalami hidrasi berbentuk bulat dan di dalamnya terjadi metabolisme embrio yang aktif, sekitar 24 jam kemudian cangkang kista pecah dan muncul embrio yang masih dibungkus dengan selaput. Pada saat ini panen segera akan dilakukan.

Selanjutnya menurut Anonim, 2009 pada cara non-dekapsulasi kista Artemia hanya direndam pada air tawar selama 15 menit. Perendaman dengan air tawar tersebut bertujuan untuk melunakkan cyste Artemia.

 

 

III.    METODOLOGI           


A.     Waktu dan Tempat

Praktik penetasan Artemia  dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2011 sampai dengan 27 Mei 2011. Bertempat di Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK Cianjur.

 

B.     Alat dan Bahan

Tabel 3.1 Alat dan Bahan Periapan Wadah dan Media

Alat Bahan
1)   Botol bekas volume 1,5 liter 2 buah

2)   Kayu/bambu

3)   Gergaji

4)   Tali rafia

5)   Selang Aerasi

6)   Refraktometer

7)   Gunting/cutter

8)   Plastik hitam

9)   Batu aerasi

1)   Lem silica

2)   Air

3)   Garam

4)   Larutan bayclin

 

Tabel 3.2 Alat dan Bahan Penetasan cyst Artemia tanpa dekapsulasi

Alat Bahan
1)   Wadah penetasan

2)   Media penetasan

3)   Petridisk

4)   Seser halus/plankton net

5)   Beaker glass

6)   Timbangan digital

7)   Plastic hitam

8)   Mikroskop

1)   Cyst Artemia

2)   Air

 

Tabel 3.3 Alat dan Bahan Penetasan cyst Artemia dekapsulasi

Alat Bahan
1)   Wadah penetasan

2)   Media penetasan

3)   Seser halus/plankton net

4)   Beaker glass

5)   Timbangan digital

6)   Mikroskop

7)   Petridisk

1)   Larutan bayclin

2)   Cyst Artemia

3)   Air

Tabel 3.4 Alat dan Bahan Pemanenan Artemia

Alat Bahan
1)   Wadah penetasan

2)   Media penetasan

3)   Plastic hitam

4)   Senter

5)   Baskom/beaker glass

1)   Artemia

 

C.     Prosedur Kerja

a)            Periapan Wadah dan Media

Adapun prosedur kerja persiapan wadah dan media adalah sbb:

1)  Buatlah wadah penetasan Artemia dengan menggunakan botol bekas sedemikian rupa sehingga wadah tidak bocor saat digunakan dengan menggunakan selang aerasi, lem silika, gunting/cutter

2)  Buat dudukan botol dengan menggunakan kayu/bambu, gergaji dan tali raffia sehingga botol nantinya dapat berdiri dengan baik dengan posisi terbalik.

3)  Atur wadah dan aerasi sebelum digunakan, pastikan wadah dan aerasi dapat berfungsi baik.

4)  Buatlah media penetasan dengan air bersalinitas 35 ppt dengan menggunakan air tawar dan garam sebanyak masing-masing 1 liter (Botol A dan B)

5)  Masukkan media yang telah disiapkan ke dalam wadah penetasan

 

b)           Penetasan cyst Artemia tanpa dekapsulasi

Adapun prosedur kerja Penetasan cyst Artemia tanpa dekapsulasi adalah sbb:

1)  Timbang cyst Artemia yang akan ditetaskan sebanyak 3 gram/liter

2)  Hitung kepadatan cyst Artemia yang akan dietaskan

3)  Hidrasi/rendam cyst Artemia dengan air tawar dalam beaker glass selama 1-2 jam

4)  Saring Artemia dengan plankton net/seser halus lalu masukkan ke dalam wadah dan media penetasan yang telah disiapkan dengan aerasi kuat

5)  Tutup wadah penetasan dengan menggunakan plastic hitam

6)  Amati dan catat perkembangan cyst Artemia setelah 6 jam

7)  Hitung derajat penetasan Artemia

 

c)           Penetasan cyst Artemia dekapsulasi

Adapun prosedur kerja Penetasan cyst Artemia dekapsulasi adalah sbb:

1)    Timbang cyst Artemia yang akan ditetaskan sebanyak 3 gram/liter

2)    Hitunglah kepadatan Artemia yang akan ditetaskan

3)    Hidrasi/rendam cyst Artemia dengan air tawar dalam beaker glass selama 1-2 jam

4)    Saring Artemia dengan plankton net/seser halus lalu masukkan ke dalam beaker glass yang telah berisi larutan bayclin ± 20 ml, aerasi kuat, tunggu hingga 5-15 menit, amati dan catat perubahan yang terjadi coklat tua > abu-abu > orange

5)    Saring cyst dengan menggunakan seser halus, lalu bilas dengan air tawar hingga bau bayclin benar-benar hilang

6)    Masukkan cyst eke dalam wadah dan media penetasan dengan aerasi kuat

7)    Tutup wadah penetasan dengan menggunakan plastik hitam

 

d)           Pemanenan Artemia

Adapun prosedur kerja Pemanenan Artemia dekapsulasi adalah sbb:

1)    Buka plastik hitam penutup wadah penetasan di bagian bawah

2)    Amati Artemia yang telah menetas dengan menggunakan senter

3)    Siapkan beaker glass sebagai wadah penampungan Artemia yang akan dipanen, serta seser yang akan digunakan untuk menyaring

4)    Buka aerasi dari bagian pangkal (dekat aerator) hingga selang aeras; mencapai seser halus untuk menyaring Artemia yang dipanen.

5)    Lakukan secara perlahan dan hati-hati, jangan sampai cangkang Artemia ikut terbawa.

IV.       HASIL DAN PEMBAHASAN

A.     Hasil

Tabel 4.1 Hasil Penetasan dekapsulasi

No

Sampling ke-

∑ dalam 1 ml (ekor)

∑ dalam 1 liter (ekor)

HR (%)

1

Satu

124

124.000

86,40

2.

Dua

238

238.000

3.

Tiga

109

109.000

Total

471

471.000

Total yang ditetaskan

3 gram sebanyak 545.100 ekor

Tabel 4.2 Hasil Penetasan tanpa dekapsulasi

No

Sampling ke-

∑ dalam 1 ml (ekor)

∑ dalam 1 liter (ekor)

HR (%)

1

Satu

195

195.000

98,14

2.

Dua

127

127.000

3.

Tiga

213

213.000

Total

535

535.000

Total yang ditetaskan

3 gram sebanyaik 545.100 ekor

B.     Pembahasan

a)            Persiapan Wadah dan Media

Pesiapan wadah dan media merupakan kegiatan utama yang dilakukan pada penetasan Artemia. Wadah yang dipakai pada saat praktik yaitu botol air mineral ukuran 1,5 liter dengan dimana botol ini sangat tepat jika digunakan untuk penetasan kerena bentuk yang kerucut sehingga nantinya akan mempermudah penetasan.

 

Gambar 4.1 Wadah penetasan Artemia

Botol  tersebut pada bagian tutup diberi lubang untuk memasukan selang aerasi kemudian bagian bawah botol tersebut dibuka. Peletakan botol saat digunakan untuk wadah penetasan akan berbentuk terbalik dimana bagian tutup botol akan berada di bawah. Seperti pada gambar dibawah ini

Kemudian wadah diisi air sebanyak 1 liter dengan larutan garam dengan salinitas 35 ppt. Untuk wadah penetasan disiapkan sebanyak 2 buah untuk membedakan wadah penetesan Artemia dengan metode dekapsulasi dan metode non dekapsulasi. Pada wadah penetan dipasang aerator sebagai penyuplai oksigen saat penetasa cyst Artemia berlangsung.

Persiapan media berupa air garam yang terbuat dari air tawar ditambahkan garam dapur sebanyak 35 gram. Kemudian setelah ditambahkan garam dapur larutan sudah menyatu antara larutan garam denga air maka langkah selanjutnya diukur menggunakan Hand refraktometer untuk memastikan salinitas media penetasan sebesar 35 ppt.

b)           Penetasan tanpa dekapsulasi

Pada praktik penetasan cyst tanpa dekap mempunyai derajat penetasan sebesar  98,14 % lebih besar dibandingkan penetasan dengan dekapsulasi. Hal ini terjadi karena diduga cyst Artemia tanpa ada perlakuan pemberian pemutih sehingga daya hidupnya lebih besar. Diduga pada saat pemberian pemutih kandungan pemutih ada bahan lain yang terkandung di dalamnya selain NaClO yang menyebabkan kematian cyste sebelum menetas. Kemudian pada penetasan tanpa dekap tidak ada perlakuan apapun dimana cyst setelah di hidrasi langsung dilakukan penetasan kedalam media penetasan.

Kemudian dari lama penetasan  jauh berbeda dengan dekapsulasi dimana tanpa dekapsulasi penetasan lebih dari 10 jam. Hal ini terjadi karena pada metode tanpa dekapsulasi cyste Artemia  tidak dilakukan pengkikisan cangkang sehingga proses penetasan akan lama di bandingkan dengan metode dekapsulasi.

Dari penampakan pada media lebih banyak ditemukan cangkang. Dibandingkan penetasan menggunakan metode dekapsulasi, Hal ini karena korion masih ada saat menetas, sehingg apabila Artemia akan diberikan pada larva ikan harus ada pemisahan cangkang terlebih dahulu kerena cangkang cyste keras dan tidak baik untuk pencernaan larva ikan atau udang. Berikut alur kerja penetasan tanpa  dekapsulasi

c)            Penetasan dekapsulasi

Dalam http://www.o-fish.com/PakanIkan/Artemia.php dekapsulasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan lapisan terluar dari cyst Artemia yang  “keras” (korion). Bahan yang diperlukan adalah pemutih/bleacing agent (natrium hipoklorit).

Penetasan dengan dekapsulasi dimana cyst dilakukan perendaman dengan larutan bayclin kemudian diaduk sampai warna cyst berubah menjadi orange. Penimpisan korion cyst Artemia bertujuan untuk mempercepat waktu penetasan. Waktu penetasan pada metode dekapsulasi selama 10 jam dari penebaran cyste pada media penetasan.

Di lihat dari Hatching rate penetasan pada metode ini mempunya derajat penetasan cukup rendah dibandingkan tanpa dekapsulasi. Hatcing rate pada penetasan dekapsulasi ini sebesar 86,40%. Hal ini dkerenakan pada penetasan dekapsulasi bahan yang digunakan bahan pemutih komersil (bayclin) dimana baycline tersebut lebih rendah NaClO dan sudah ada campuran bahan lain selain Natrium Hipokloritnya. Kemudian pada saat pengadukan dengan menggunakan bayclin terlalu lama dan pengadukan kemungkinan terlalu kuat sehingga naupli yang ada pada cyste mati sebelum penetasan

Namun hasil penetasan pada pada media penetasan lebih sedikit cangkangnya karena korion sudah mengalami pengkikisan sehingga terlihat cangkang lebih lunak dan jika diberikan pada larva sangat cocok dan baik untuk pencernaan.

Dari dua metode yang dipraktikan pada penetasan cyst Artemia maka akan lebih baik jika penetasan Artemia dengan menggunakan metode dekapsulasi karena lebih efisien dalam penggunaan waktu. Semakin cepat waktu penetasan maka semakin cepat terpenuhi kebutuhan Artemia bagi larva ikan maupun udang. Namun perlu dilihat untuk bahan yang digunakan dalam dekapsulasi dimana bahan pemutih boleh dipakai namun menggunakan standar dimana untuk Natrium Hipokloritnya 12,5% dan tidak bahan kimia lain yang terkandung di dalamnya (http://www.o-fish.com/PakanIkan/Artemia.php)

Dekapsulasi sangat direkomendasikan sebagai prosedur disinfektan kerena dapat membunuh bakteri – bakteri yang terkandung pada cyst Artemia. Sebelum melakukan penetasan telur Artemia. Cangkang bagian luar yang disebut chorion tidak dapat dicerna dan sukar dipisahkan dari nauplii hanya dengan bilasan air. Beberapa manfaat dekapsulasi terhadap kista artemia :

  1. Nauplius bersih dari cangkang kista dan kista yang tidak menetas.
  2. Telur akan bebas dari hama dan penyakit
  3. Nauplius Artemia akan lebih mudah lepas dari cangkangnya karena cangkang lebih tipis

d)            Pemanenan Artemia

Pemanenan Artemia setelah dipastikan semua cyste Artemia telah menetas semua. Pemanenan mula-mula matikan aerator yang dipakai pada media penetasan kemudian biarkan beberapa menit. Tujuan mematikan aerator kemudian dibiarkan beberapa saat agar naupli Artemia berkumpul pada dasar wadah penetasan sedangkan cangkang akan mengumpul pada permukaan sehingga pada saat pemanenan diperoleh Artemia tanpa cangkang yang menempal.

Penetasan sangat mudah dilakukan dengan membuka bagian tutup botol bagian bawah kemudian naupli akan keluar mengukiti aliran air dan akan tersaring dengan menggunakan plankton net.

 

 

V.         PENUTUP


A.     Simpulan

Dari kegiatan praktikum yang dilakukan ada beberapa kesimpulan sbb :

  1. Hatching rate dengan penetasan dekapsulasi sebesar  86,40 % sedangkan penetasan dengan metode non dekapsulasi sebesar  98,14 %. Hal ini duduga penyebab HR dekapsulasi lebih kecil dibandingkan dengan non dekapsulasi adalah :

a)      Bahan yang terkadung pada bayclin selain Natrium Hypoklorit ada bahan lain yang dapat memberikan efek terhadap penetasan sehingga menyebabkan cyst banyak yang  mati

b)      Untuk penetasan cyste disarankan kandungan NaClO adalah 12,5% sedangkan bayclin lebih rendah kerena sudah ada bahan lain yang terkandung

c)      Waktu penanganan atau pengadukan lebih lama dan metode pengadukan tidak beraturan sehingga banyak naupli yang mati sebelum menetas

  1. Dari waktu penetasan bahwa penetasan dengan metode dekapsulasi lebih cepat dibandingkan tanpa dekapsulasi
  2. Perbedaan penetasan dekapsulasi dangan tanpa dekapsulasi dimana dekapsulasi ada pencampuran cyste dengan bayclin sedangkan pada penetasan tanpa dekapsulasi setelah dihidrasi cyste langsung dimasukan pada media penetasan.

B.     Saran

Dari kegiatan praktikum yang dilakukan ada beberapa saran sbb :

  1. Kegiatan praktik hendaknya tersedia peralatan dan bahan yang mencukupi sehingga memperlancar  praktik yang dilakukan
  2. Bimbingan dari dosen pengampuh mata kuliah sangat kami butuhkan

PENEBARAN IKAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ikan melakukan berbagai fungsi fisiologis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Fungsi fisiologis tersebut diantaranya adalah pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi. Usaha yang banyak dilakukan saat ini dalam budidaya ikan adalah memacu pertumbuhan yang cepat melalui pemberian pakan yang optimal.

Pada budi daya ikan, pakan merupakan faktor yang sangat perlu diperhatikan mengingat hampir 60% dari biaya produksi digunakan untuk penyediaan pakan. Pakan yang mempunyai kandungan nutrien yang lengkap dan seimbang dapat mempercepat pertumbuhan. Protein merupakan nutrien yang paling penting karena merupakan bagian terbesar dari daging ikan yaitu
sekitar 65−75% dan berfungsi sebagai bahan pembentuk jaringan tubuh dalam proses pertumbuhan (Halver, 1988).

Penebaran ikan yang dilakukan juga akan mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya ikan. Ikan yang terlalu tinggi atau padat tebarnya terlau banyak akan menyebabkan persaing dalam penggunaan oksigen dan ruang gerak, selain itu juga akan mempengaruhi kebutuhan pakan yang dikonsumsi. Oleh karena itu penebaran yang dilakukan sebaiknya sebelum melakukan penerbaran ikan harus memperhatikan factor daya dukung kolam sehingga ikan yang ditebar bisa berkembang dengan baik. Untuk mengetahui pertumbuhan ikan yang ditebar dan perkembangannya oleh karena itu kami mencoba mempraktikan penebaran ikan di bak pemeliharan di Departemen Perikanan Budidaya.

B. Tujuan
Dari kegiatan praktikum yang dilakukan maka tujuannya adalah :
1. Mengetahui pertumbuhan ikan yang ditebar dari segi beratnya
2. Mengetahui pertumbuhan ikan yang ditebar dari segi panjang tubuhnya

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sejarah Singkat Ikan Nila
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik Ikan nila disukai oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap merah.

Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui Direktur Jenderal Perikanan. (http://migroplus.com/brosur/Budidaya%20ikan%20nila.pdf)

Gambar 1. Ikan Nila

B. Jenis Ikan Nila
Dalam http://migroplus.com/brosur/Budidaya%20ikan%20nila.pdf Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii
Crdo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus.

Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah (nirah) dan nila albino.

C. Penebaran Ikan
Dalam Irzal Effendi. 2004 mengatakan penebaran ikan bertujuan untuk menempatkan ikan dalam wadah kultur dengan padat penebaran (Stoking density) tertentu. Benih berasal dari produksi pembenihan atau hasil penangkapan dari alam dengan kreteria :
1. Spesies definitive dan tidak bercampur dengan spesies lain
2. Organ tubuh lengkap
3. Berukuran seragam
4. Respon terhadap gangguan
5. Posisi tubuh dalam air normal
6. Menghadap dan melawan arus
7. Warna cerah
8. Tidak membawa penyakit

Selanjutnya Irzal Effendi. 2004 mengatakan ukuran benih yang ditebar akan menentukan lama waktu pemeliharaan untuk mencapai ukuran panen (harvestable size) tertentu.

D. Pertumbuhan Ikan
Menurut Moch. Ichsan Effendi. 1978 dalam istilah sederhana pertumbuhan dapat dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu, sedangkan pertumbuhan bagi populasi sebagai pertambahan jumlah. Akan tetapi kalau kita lihat lebih lanjut, sebenarnya pertumbuhan itu merupakan proses biologi yang komplek dimana banyak factor mempengaruhinya.

Selanjutnya Moch. Ichsan Effendi. 1978 mengatakan pertumbuhan dalam individu ialah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi apabila ada kalebihan input energy dan asam amino
(protein) berasal dari makanan. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah sebagai berikut :
1. Faktor Dalam (yang sukar dikontrol) diantaranya ialah keturunan, sex, umur, parasit dan penyakit.
2. Faktor luar diantaranya makanan dan suhu perairan.

Untuk factor suhu diusahakan suhu dalam keadaan optimum dengan memberikan tanaman air agar suhu perairan menjadi stabil. Sedangkan makanan sangat berpengaruh pertumbuhan karena keberhasilkan ikan dalam mendapatkan makanan akan menentukan pertumbuhan ikan tersebut.

III. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat
Praktik pemupukan dilakukan pada tanggal 10 November 2011 sampai tanggal 17 November 2011. Bertempat di bak pemeliharaan Departemen Perikanan Budidaya

B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam pemupukan sebagai berikut :
A. Alat Fungsi
1. Bak
2. Timbangan digital
3. Seser
4. Selang
5. Baskom
6. Penggaris Untuk memelihara ikan
Untuk menimbang berat ikan
Digunakan untuk mengambil kotoran pada bak
Mengisi air pada bak pemeliharaan
Untuk menguras bak saat sebelum pengisian air
Untuk mengukur panjang ikan
B. Bahan
1. Air
2. Pakan pellet Media pemeliharaan
Sebagai makanan ikan

C. Prosedur kerja
prosedur pemupukan dan penumbuhan pakan alami sebagai berikut :
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Melakukan pembersihan bak dari kotoran dan menguras air lama yang ada di dalam bak
3. Melakukan pengisian air bak
4. Memilih ikan sebanyak 10 ekor kemudian di timbang berat dan diukur panjangnya
5. Menimbang pakan sebanyak dosis 3 % dari biomassa
6. Melakukan penebaran ikan pada bak pemeliharaan
7. Memberika pakan selama pemeliharaan dengan frekuensi 3 kali sehari
8. Pemeliharaan ikan dilakukan selama tujuh hari setelah penebaran ikan

Diagram prosedur kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Dari praktikum yang dilakukan maka diperoleh data sebagai berikut :
1. Ikan yang ditebar : ikan nila 10 ekor
2. Rata – rata panjang awal ikan : 7,1 cm
3. Rata berat awal ikan : 9,059 gr
4. Biomassa : 90,59 gr
5. Dosis pakan : 3 % dari biomassa
6. Pakan perhari : 2,71 gr/hr

B. Pembahasan
Dari hasil praktikum yang dilakukan ikan yang dipelihara adalah ikan nila dengan jumlah 10 ekor, Penerbaran yang dilaksanakan pada pagi hari. Namun praktikum yang dilakukan hasil dari penebaran tidak ada yang dihidup. Dari data yang diperolah untuk hari pertama pemeliharaan ikan mengalami kematian sebanyak 6 ekor, selanjutnya hari kedua kematian ikan sebanyak 2 ekor dan hari terakhir ikan mengalami kematian 1 ekor. Jadi hasil pemeliaharaan tersisa 1 ekor ikan dengan konsisi sudah melemah dan bagian sirif tumbuhan seperti jamur. Ikan mengalami kematian seperti data diatas Hal ini dapat di sebabkan factor sebagai berikut :
1. Faktor kualitas air yang buruk
Kualitas air ikan nila merupakan salah satu faktor yang paling penting untuk pertumbuhan ikan nila. Meskipun nila dapat hidup dan berkembang pada air yang berkualitas buruk tetapi akan rentan terhadap serangan penyakit. Untuk menjaga kualitas ikan nila yang tinggi dan sehat faktor pertama yang harus diperhatikan adalah kualitas air air yang prima. Untuk mengoptimalkan perkembangan dan meningkatkan kualitas ikan nila, kualitas air harus terjaga dan tetap seperti itu dari hari ke hari dan tahun ke tahun. Ini adalah konsep yang sulit untuk dicapai sepenuhnya, karena air dalam peraiaran biasanya tidak berganti dan jika pada air yang berganti harus dipastikan selalu bersih dan bebas dari zat-zat berbahaya.

Dalam http://carabudidaya.com/ikan-nila/ bahwa kualitas air yang optimum untuk pemeliharaan ikan nila sebagai berikut :
– Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 7-8
– Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat Celsius
– Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil

Sedangkan dalam http://bbat-sukabumi.tripod.com/air.html bahwa kualitas air untuk ikan nila adalah :
– Suhu 23 – 27, 6 derajat Celsius
– pH 5,64 – 7,94
– Oksigen telarut 1,26 – 6 mg/l
– CO2 bebas 2,19 – 39,35 mg/l
– Alkalinitas 2,60 – 60 mg/l CaCO3
– Amonia 0- 5,351 mg/l NH3 – N
– Nitrit 0,003 – 0,856 mg/l NO2 – N

Dari data diatas kemungkinan dari kualitas perairan pada bak pemeliharaan ikan nila ada beberapa factor yang tidak mendukung. Secara fisik air yang sangat terlihat yaitu air berbau busuk karena kemungkinan air dari pemupukan tidak dikuras secara menyeluruh hanya di kuras sebanyak 50% dari total volume. Kemungkinan sisa air 50% yang berbau busuk masih banyak mengandung ammonia yang sangat banyak dan kadarnya Amonia lebih dari 0- 5,351 mg/l.

Dalam http://gitanurani09.blogspot.com/2011/03/pengaruh-berbagai-faktor-lingkungan.html Amoniak merupakan hasil akhir metabolisme protein, akan tetapi amonia dalam bentuk yang tidak terionisasi (NH3) merupakan racun bagi ikan sekalipun pada konsentrasi yang sangat rendah. Amonia mempunyai efek yang sangat serius terhadap kemampuan ikan dalam menggambil oksigen. Dari uraian ini makan secara langsung ikan akan mengalami kekurangan oksigen dampak dari ammonia yang terlalu tinggi sehingga ikan mengalami kematian yang begitu besar pada hari pertama.

2. Faktor kondisi ikan yang tidak baik
Pada saat praktikum dilakukan ikan terkebih dahulu dilakukan penimbangan dan pengukuran panjang sehingga ikan kemungkinan mengalami stress akibat penanganan yang terlalu lama. Kemudian ikan nila pada pemeliharran juga terkena penyakit karena pada bagian tubuh ikan terlihat luka – luka dan semakin lama lukanya melebar dan menjadi akut sehingga menyababkan kematian.

Stres yang terjadi pada ikan berkaitan dengan timbulnya penyakit pada ikan tersebut. Stres merupakan suatu rangsangan yang menaikkan batas keseimbangan psikologi dalam diri ikan terhadap lingkungannya. Biasanya stres pada ikan diakibatkan perubahan lingkungan akibat beberapa hal atau perlakuan misalnya akibat pengangkutan/transportasi
ikan-ikan yang dimasukkan ke dalam jaring apung di laut dari tempat pengangkutan biasanya akan mengalami shock, berhenti makan dan mengalami pelemahan daya tahan terhadap penyakit.

Pada ikan yang dipelihara nampak adanya Pembusukan sirip/ekor (Bakteri Fin Rot) Bakteri ini biasanya menyerang sirip-sirip, terutama sirip ekor dan dapat mengakibatkan luka dan pengelupasan kulit. Ikan-ikan yang terserang penyakit ini akan menalami luka/kerusakan pada bagian tepi dan sirip-siripnya, termasuk sirip ekor dan akan terkikis secara tidak teratur. Bahkan tidak jarang terjadi sirip yang terserang akan tinggal bagian pengkalnya saja. Jika diamati pada bagian yang terkena penyakit atau bagian yang luka hanya sedikit terdapat protozoa, tetapi diketemukan banyak sekali populasi bakteri yang terdiri dari bakteri Mycobacter sp. Vibrio sp, jenis-jenis Pseudomonas dan Cocci gram positif. Diperkitakan bahwa kerusakan yang terjadi tersebut diakibatkan oleh serangan bakteri dengan populasi yang sangat padat. Bakteri ini mudah menular lewat luka-luka ikan yang lain akibat sentuhan ekor yang sakit.

Pada dasarnya penyakit ini tidak begitu berbahaya, tetapi yang menjadikan bahaya justru infeksi sekunder jenis bakteri lain yang dapat memperparah penyakit tersebut dan menyebabkan kematian ikan.

V. PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari praktik yang dilakukan dapat di simpulkan bahwa :
1. Pertumbuhan adalah sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu.
2. Ada beberapa faktor pendukung ikan mengalami pertumbuhan yaitu
– Faktor Dalam (yang sukar dikontrol) diantaranya ialah keturunan, sex, umur, parasit dan penyakit.
– Faktor luar diantaranya makanan dan suhu perairan.
3. Ikan mengalami kematian yang mendadak disebabkan oleh factor sebagai berkut :
– Faktor kualitas air (ammonia dan oksigen yang tidak optimum)
– Faktor kondisi ikan yang sudah lemah akibat penanganan yang lama sebelum penebaran.
– Ikan terserang penyakit sehingga berakibatkan kematian

B. Saran
Dari Praktik yang dilakukan makan ada beberapa saran sebagai berikut :
1. Sebaiknya sebelum penebaran air yang lama sebaiknya diganti total agar kandungan ammonia dari hasil pemupukan yang terlalu tinggi tidak ada yang tersisa sehingga ikan bisa berkembang dengan baik.
2. Sebaiknya penanganan ikan harus cepat sperti penimbang dan pengukuran panjang sebelum penebaran sehingga ikan tidak mengalami streass
3. Selalu menjaga kualitas air secara optimum dan pemberian pakan yang baik.

(Flexibacter columnaris)

  1. A.      MORFOLOGI
  • Merupakan bakteri rod gram negative
  • Memiliki diameter berukuran 1,4 µm
  • Dengan panjang 3-10 µm
  • Hidup pada suhu 20 – 24 derajat celsius
  • Banyak terdapat pada ikan channel catfish
  • Penyebab penyakit columnaris

 

  1. B.       GEJALA KLINIS
  • Menyerang sirip, permukaan tubuh dan insang
  • Sirip mengalami necrosis
  • Warna sirip keabu – abuan hingga putih
  • Luka awal pada kulit tampak kecil,terdapat daerah berwarna kebiru biruan yang meluas menjadi luka nekrosis
  • Luka yang ditimbulkan bakteri ini memiliki pinggiran kekuningandan putih dengan disertai inflammasi ringan.
  • Mulut ikan yang terinfeksi ditutupi dengan material lendir yang kekuning–kuningan

 

  1. C.      PHATOGENITAS
  • Flexibacter columnaris menyerang pada suhu 15 – 20 o C
  • Infeksi Flexibacter columnaris meningkat karena adanya kekurangan oksigen terlarut dan kandungan ammonia meningkat
  • Penyebaran penyakit columnaris umumnya terjadi dari ikan ke ikan lewatmedia air
  • Sebagai infeksi sekunder pada ikan channel catfish, penanganan,pengangkutan, penangkapan, suhu, kualitas air (oksigen rendah), dan penyakit lainnya adalah perintis/pemacu timbulnya columnaris
  • Bakteri tersebut lebih sering menyerang ikan pada musim panas atau saat suhu dan pH tinggi. Penularannya dapat melalui ikan atau peralatan.
  1. D.      PENGENDALIAN
  • Menggunakan bahan kimia
  1. Oxytetracicline
  2. Tetracycline
  3. Potasium permanganate
  4. Copper sulpate
  5. Pengobatan dilakukan dengan cara ikan yang sakit direndam dalam tawas (CuSO4) selama 1-2 menit. Dosisnya sebanyak 1 ml tawas untuk 2 liter air. Kemudian, ikan sakit tersebut dapat diberi antibiotik tetrasiklin selama lebih dari 30 menit dengan dosis 10 mg/2 air.
  6. Perendamana dengan garam
  7. Penoxcyethanol
  • Memperbaiki kualitas air seoptimal mungkin untuk kehidupan ikan

Previous Older Entries